Anak Kucing Di Atas Pelapon

Cerita faktual ini menjadi topik perdebatan seru dan menarik setiap kali saya ceritakan disela-sela memperlihatkan bahan di training guru dan pendidik PAUD. Cerita ini mengilustrasikan citra wacana bagaimana asal muasal anak yang nakal, dan sikap bernafsu anak terhadap orang lain di sekolah. Anak-anak badung ini terutama ialah bawah umur dari lingkungan keluarga yang tinggal di kawasan kumuh, perumahan rapat dengan latar belakang masyarakat yang berpendidikan rendah.

Saya beri saja judul ceritanya "Kucing di atas Pelapon".

Ceritanya : Kucing betina milik anak saya yang sudah beberapa bulan ini terlihat hamil, sudah melahirkan, perutnya sudah terlihat mengecil, tapi semula kami galau alasannya ialah anaknya yang dilahirkan tidak terlihat dimanapun. Hingga kesudahannya anak saya menemukannya di belakang lemari buku. Ada 4 ekor anak kucing yang lucu-lucu, 2 ekor terlihat elok menyerupai ibunya mempunyai  belang 3 warna, yang menciptakan kami lebih kegirangan keduanya ternyata berkelamin jantan, berdasarkan orang-orang bila memiliki kucing jantan belang tiga akan memperlihatkan keberuntungan alias hoki pada pemilik rumah.. katanya...entah betul atau tidak?.

Kamipun memindahkan kucing-kucing kecil itu keruang tengah, kami buatkan sangkar dari kardus bekas. Semula kucing-kucing itu terlihat nyaman di sana sampai besoknya kami jadi kaget kucing-kucing kecil itu beserta induknya tidak ada lagi dikandangnya. Kami menemukannya kembali di belakang lemari buku, si induk terlihat tegang dan terengah-engah menyerupai takut dengan sesuatu, ini terlihat juga dari tatapannya yang penuh curiga dan waspada kepada kami. Saya berfikir rupanya kucing-kucing ini tidak mau dipindahkan dari kawasan rak buku ini, mungkin di sini lebih nyaman bagi mereka, kesudahannya sangkar yang kami buat, kami pindahkan ke situ.

Ketika esok harinya kami semua sangat terkejut! terutama anak saya duka sekali mendapati dua ekor anak kucing yang belang tiga mati, badannya penuh berlumuran darah, bahkan yang satunya sangat menggenaskan mati dengan kepala hampir putus. Sementara induk dan dua ekor anaknya yang lain tidak terlihat dimanapun. Kami sudah mencari sekeliling rumah tapi tidak kami temukan. 

Kembali ke TKP..(eh kaya insiden kriminalitas aja..hehe...) sesudah kami selidiki simpulan hidup korban rupanya akhir perbuatan dari kucing jantan milik tetangga di depan komplek, dari data dan analisis lapangan di temukan memang sudah jadi kebiasaan dan aturan alam, kalo kucing jantan belang tiga yang lahir jarang yang sanggup bertahan hidup lama, alasannya ialah niscaya kucing jantan besar akan memburunya untuk dibunuh, berdasarkan pengalaman orang-orang renta katanya kalo kucing jantan belang tiga sudah bakir balig cukup akal ia akan menjadi peguasa daerahnya, kegagahan dan ketampanannya akan memikat semua kucing betina, dan kekuatannya akan bisa mengusir kucing jantan lain, pokoknya ia akan menjadi raja segala raja kucing.... alasannya ialah itulah kucing-kucing bakir balig cukup akal menjadi resah dan takut sehingga berusaha membunuhnya dikala kucing itu masih kecil...itulah aturan rimba rupanya.

Sejak insiden pembunuhan, kami sudah kehilangan kucing betina dan dua ekor anaknya yang tersisa, sudah kami cari kemana-mana tidak ditemukan, kesudahannya kami berkesimpulan kucing betina ini niscaya pergi jauh membawa anaknya ketempat yang lebih aman. Hingga suatu hari sesudah hampir dua ahad semenjak insiden saya mendengar ada bunyi yang aneh di atas pelapon rumah kami. Ketika saya periksa di situ ada seekor anak kucing berwarna kuning, dalam posisi yang gelap dan sempit dipelapon ia menatap saya dengan tajam, perlahan saya dekati dan saya raih untuk mengambil membawanya turun. Tapi sungguh tidak diduga kucing itu melaksanakan perlawanan, ia menyerupai siap menerkam, mencakar dengan verbal yang tebuka lebar, bunyi dari mulutnya terdengar mendesis terasa menakutkan. 

Saya berkesimpulan selama dua ahad di atas pelapon, mulai semenjak kucing ini masih kecil, ia harus berjuang untuk mempertahankan dirinya sendiri dari sesuatu, mungkin dari tikus-tikus besar yang sering terdengar berlari lewat di atas pelapon rumah kami itu.

Dengan handuk kecil barulah saya bisa menangkap anak kucing itu, membawanya turun dan memasukannya kedalam kotak yang sudah disediakan. Di bawah kami memeliharanya, tiga hari pertama kucing itu masih telihat ganas dan liar, tidak bisa disentuh sedikitpun, induknya tiba-tiba juga datang, dengan perlahan kami melaksanakan pendekatan, membiasakan mengelus kepalanya dan memegang badannya, sampai pada hari ke delapan barulah kucing kecil tersebut terlihat jinak dan mau digedong oleh anak saya.

Dari dongeng pengalaman di atas, bisa bunda simpulkan sendiri, mengapa bawah umur kita di sekolah ada yang bersikap liar susah diatur, memang perlu waktu dan kesabaran secara perlahan untuk membantu mereka untuk berubah...

...children are fireflies in the dark night....

Dari Postingan original by asolihinskb  - http://paud-anakbermainbelajar.blogspot.com/, terimakasih sudah berkunjung.

Sumber https://paud-anakbermainbelajar.blogspot.com/

0 Response to "Anak Kucing Di Atas Pelapon"

Post a Comment

wdcfawqafwef